Saturday, 21 March 2015

Negeri Tanpa Suara #1


Aku pernah berkelana menunggang biola,
menuju sebuah tempat yang tak pernah ada,
berbincang dengan orang-orang yang tak berbicara,
menyanyikan lagu-lagu tanpa nada.

Di sini betul-betul kacau. Aku harus berpikir cepat. Sejak kulihat selang air itu, segera kuarahkannya pada gedung yang sedang terbakar habis-habisan di depan muka. Orang-orang berlarian tak karuan. Ada juga yang cuma menonton atau malah merekamnya di Handphone. Beberapa ikut memadamkan api. Tidak sampai seperempatnya. Yang menjadi masalah sekarang adalah, selang ini tak juga keluar airnya. Aku baru paham ketika seseorang memukul kepalaku dari belakang.
“Sudah kubilang, pijit dulu tombolnya!” bentak orang itu.
“Tapi aku tidak mendengarmu.”
“Kau memang tidak bisa mendengar, bodoh!”
Sial! Aku yang berniat baik ini malah dimarahi. Padahal bisa saja tadi aku meneruskan untuk … ah, lebih baik kuceritakan dari awal.

Monday, 16 February 2015

Belajar IMK dari NGOMIK.com

Sebelumnya ane pengen ngasih tau kalau ini akan jadi postingan pertama di blog si Rambutan Merah yang bukan cerita fiksi. Jadi bagi yang pengen baca cerita yang menarik dan penuh kejutan seperti biasanya, mohon maaf ya. Entah kenapa kali ini amdin lagi pengen ngeshare info (mungkin karena tugas IMK) tentang sebuah situs yang menurut ane sangat menarik. Tapi, sekali lagi maaf. Pembahasan ini enggak akan mengarah ke konten atau isi dari situs tersebut. Untuk beberapa alasan (sepertinya karena tugas IMK), ane lagi pengen ngebahas desain interface-nya.
Oke, langsung aja ke materi.

Ane suka baca komik. Agan suka baca komik. Kita semua suka komik (termasuk Pak Haji yang suka nyari komik kalau lagi batuk). Baik itu dari Amerika, Eropa, Jepang (Manga), Korea (Webtoon), maupun yang berasal dari dalam negeri kita sendiri. Kita bisa mendapatkannya di toko-toko yang menyediakan layanan peminjaman komk di sekitar tempat tinggal kita atau membacanya dengan gratis di Gram*dia (Hahaha). Permintaan akan barang yang satu ini memang sangat besar. Dan, permintaan yang besar memicu penawaran yang besar pula. Mungkin itu yang melandasi lahirnya  NGOMIK.com.

Tuesday, 16 December 2014

Pengantar Barang

gambar: qrl-it.com

          Sore itu, langit dipenuhi oleh warna abu-abu. Awan yang semakin menebal tak sanggup lagi menahan air lebih lama. Suara petir bersahut-sahutan menggema di penjuru langit. Sinyal itu sudah cukup bagi para burung untuk bebondong-bondong kembali ke sarangnya. Tak lama, hujan lebat disertai angin kencang pun datang menerpa, yang dalam waktu singkat sudah membanjiri jalanan di Kabupaten Kuningan.
          Beno memacu mobil box-nya. Ia melesat memotong genangan air hingga menciprat dari kedua sisi mobilnya layaknya jubah superman saat terbang. Hanya ada satu hal yang ia pikrikan, mengantar paket kiriman terakhirnya dengan selamat, setelah itu pulang dan menyeduh secangkir kopi panas ditemani pisang goreng dan sebungkus rokok.
          “Tinggal satu lagi! Setelah itu, Mission Completed!” pikirnya.
          Namun seperti kebanyakan kasus, sangat sulit untuk memulai sesuatu, tapi lebih sulit lagi untuk menyelesaikannya. Beno tidak pernah menyangka hari sabtunya akan berakhir seperti ini.

Sunday, 13 July 2014

Kampung Pembunuh




Tidak ada tempat yang lebih menyeramkan di negeri ini selain Kampung Pembunuh. Ketika seorang pria diminta membunuh dengan bayaran sebungkus rokok adalah hal yang lumrah, ketika para pemuda pengangguran bermain kartu dan yang kalah harus membawa jantung seseorang dari kampung tetangga adalah hal yang wajar, ketika anak-anak kecil bermain bola dengan sebuah kepala yang masih basah adalah pemandangan biasa. Namun setidaknya, Kampung Pembunuh memiliki peraturan yang sangat dipatuhi oleh para warganya, tidak boleh membunuh orang yang berasal dari kampung sendiri. Mereka pun hidup dengan damai di dalam kebodohan mereka.

Saturday, 5 April 2014

Makan Malam


gambar: veganepicurean.blogspot.com

Suara berisik terdengar dari arah dapur saat Marni menenggelamkan daging sapi kemasan ke dalam air mendidih. Air mukanya menggambarkan ketidaksabaran. Matanya melotot dan bibirnya melengkungkan senyuman dingin.
"Sebentar lagi kau akan mati, suamiku tercinta. Kau kira aku tidak tau apa yang kau lakukan dengan sekretarismu di kantor, hah?" gumamnya diakhiri dengan tawa cekikikan.

Sunday, 9 March 2014

Warnamu

gambar: redbubble.com


Tak ada yang istimewa pagi ini. Semuanya normal. Langit cerah biru jernih, burung-burung hilir mudik mencari makan, kucing kampung berjemur di bawah matahari. Suasana desa tak begitu ramai, hanya satu-dua kendaraan yang melintas pelan di jalan utama. Setiap orang sudah terjebak dalam pekerjaannya masing-masing. Di sawah, sekolah, dan kantor kelurahan.
Sebuah mobil pendek berwarna putih kusam terparkir di bawah pohon beringin. Asap rokok mengepul keluar lewat kaca depan yang terbuka. Seorang pria terlihat sedang duduk santai di jok depan. Setelannya formal. Kemeja abu kotak-kotak, celana bahan warna gelap, dan sepatu pantopel hitam yang mengilat. Jari tangan kanannya memainkan sepuntung rokok. Memutar-mutarnya kian kemari. “Masuk jangan ya? Masuk jangan ya?” pikirnya.

Wahai Hasan


gambar: miriadna.com

Assalamu’alaikum ...
Wahai, Hasan! Awal ketika aku terdampar di tempat ini, aku begitu cemas. Risau. Takut. Karena ketika aku terbangun, kau tidak ada di sini bersamaku. Aku kebingungan. Tersesat. Pontang-panting tak tentu arah di pesisir pantai ini. Butiran garam menempel di telingaku, mulutku penuh dengan pasir, dan yang aku ingat di perjalanan hanyalah air dan badai. Matahari terbit dari ufuk timur. Itu tandaya, hariku yang baru sedang dimulai. Apa yang harus aku lakukan, Hasan?
***
Di sebuah ruangan kecil dengan dinding berwarna hijau muda, seorang pria berperawakan tinggi kurus, berbaju muslim, bersorban, dan berpeci berdiri di hadapan kedua anak didiknya. Dia tidak bisa lagi berdiri dengan tegak karena tulang belakangnya sudah membungkuk. Tangannya yang keriput bergerak-gerak menuliskan sesuatu di atas papan tulis hitamnya menggunakan kapur berwarna putih. Kedua muridnya hanya memperhatikan.