![]() |
gambar: redbubble.com |
Tak ada yang istimewa pagi ini. Semuanya normal. Langit cerah biru jernih, burung-burung hilir mudik mencari makan, kucing kampung berjemur di bawah matahari. Suasana desa tak begitu ramai, hanya satu-dua kendaraan yang melintas pelan di jalan utama. Setiap orang sudah terjebak dalam pekerjaannya masing-masing. Di sawah, sekolah, dan kantor kelurahan.
Sebuah mobil pendek berwarna putih
kusam terparkir di bawah pohon beringin. Asap rokok mengepul keluar lewat kaca
depan yang terbuka. Seorang pria terlihat sedang duduk santai di jok depan. Setelannya
formal. Kemeja abu kotak-kotak, celana bahan warna gelap, dan sepatu pantopel
hitam yang mengilat. Jari tangan kanannya memainkan sepuntung rokok.
Memutar-mutarnya kian kemari. “Masuk jangan ya? Masuk jangan ya?” pikirnya.
Pria itu diliputi kegamangan. Ia
tidak bekerja hari ini, karena memang ia tidak memiliki pekerjaan. Seminggu
yang lalu, kantor tempatnya bekerja gulung tikar. Tidak ada kantor lain yang
mau menerimanya. Ijazah SMP-nya tidak laku di zaman sekarang. Ia mendorong
pintu mobilnya untuk keluar, lalu menutupnya dengan keras. Dihisapnya rokok itu
kuat-kuat, dibuangnya di tanah, lalu diinjaknya dengan kesal. Mulutnya bergumam
kecil mengeluarkan sisa asap terakhir. “Terkutuklah aku!”
Dia berjalan ke sebuah rumah yang
tersembunyi di balik pepohonan besar. Rumah kecil yang terbuat dari bilik
bambu. Gentingnya penuh ditumbuhi lumut. Lantainya berlapis tanah, dan isinya
juga tanah. Pekarangan depan rumah dipenuhi oleh sampah dedaunan yang
berserakan, pertanda tidak pernah dibersihkan.
“Permisi!”
Tidak ada jawaban. Pria itu
mengulanginya sampai empat kali. Barulah seseorang membukakan pintu. Seorang
lelaki tua berpakaian panjang serba hitam.
“Ada perlu apa?” tanya si lelaki tua dengan
suaranya yang serak.
“Saya ingin kaya.”
“Anak muda, aku sendiri sampai
sekarang belum kaya-kaya. Jangan minta yang aneh-aneh!”
“Bagaimana kalau begini? Saya ingin
punya istri seorang janda kaya, bagaimana?”
“Sepertinya itu bisa diusahakan. Kenapa
tak pernah terpikirkan olehku ya? Ayo masuk!”
Rumah itu hanya memiliki sebuah
ruangan di dalamnya. Suasananya gelap. Semua jendela ditutup rapat. Penerangan
hanya berasal dari tiga buah lilin yang bisa padam kapan saja. Bau-bau aneh
tercium dari setiap sudut. Kedua lelaki itu duduk di atas tikar berwarna merah
yang terhampar di tengah ruangan.
“Oh, ya. Siapa namamu?” tanya si tua
sambil duduk bersila.
“Carsedi, panggil saja Charles,”
matanya memandang ke seisi rumah. “Emm, rumah ini hanya memiliki satu ruangan?”
“Ya. Aku melakukan semuanya di sini.
Tidur, makan, bekerja, mandi, dan ... jangan tanya!”
“Pantas saja dari tadi saya mencium
bau tidak sedap.”
“Jangan salah! Itu bau kemenyan,
untuk menyamarkan bau yang lain.”
“Hmm, kata orang Ki Elang ini dukun
yang sangat sakti.”
Ki Elang tekekeh, “Kalau memang aku
sehebat itu, rumah ini tidak akan sepi pengunjung seperti sekarang.”
Charles tersenyum, “Saya suka dengan
gaya Aki. Selama ini semua dukun yang saya temui cuma besar di mulut, padahal
kemampuannya tidak ada.”
“Syukurlah kalau kau percaya padaku.
Kepercayaan memang penting dalam sebuah pekerjaan. Tunggu sebentar!” Ki Elang
pergi ke belakang, lalu segera kembali dengan membawa segelas air, “Ini,
silakan diminum!”
Charles mengambilnya. Sesaat sebelum
ia minum, ia mencium bau tak sedap dari dalam gelas yang cukup untuk membuatnya
tidak jadi minum.
“Terima kasih. Saya lupa kalau hari
ini sedang berpuasa,” ucapnya berbohong.
“Sayang sekali, padahal itu ramuan pemanggil
jodoh,” ujar Ki Elang
Tanpa pikir panjang, Charles segera
meminum ramuan itu sambil menahan napas dan berusaha agar tidak muntah. Ia
meminumnya sampai habis. Ki Elang pun kembali terkekeh.
“Aku bercanda. Itu cuma air yang kuambil
dari empang di belakang.”
Tanpa pikir panjang, Charles segera
memuntahkannya kembali.
“Ya sudah. Cukup bercandanya. Sekarang
ayo kita segera pergi menemui gadis yang kau bilang tadi!” sahut Ki Elang.
“Tunggu tunggu. Kita berdua akan
menemuinya?” tanya Charles sambil melap mulutnya.
“Tentu saja! Kau pikir aku akan menyantetnya
lewat foto? Berpikirlah lebih rasional!”
Mereka berdua segera naik mobil putih
kusam milik Charles dan langsung berangkat menuju tempat di mana ‘target’
sedang berkerja.
“Jadi, apa rencana kita?” tanya
Charles sambil terus menyupir dengan raut tidak sabar.
“Sebelumnya aku ingin bertanya
padamu. Apa kau pernah mendengar tentang pembacaan
aura?”
“Ya, saya pernah dengar. Tentang
warna-warna yang terpancar dari tubuh seseorang yang mewakili kepribadiannya bukan?”
“Tepat sekali. Setiap orang memiliki
auranya masing-masing. Aura primer menggambarkan watak utama dari orang
tersebut yang tidak bisa berubah, sementara warna-warna yang lainnya bisa
berubah-ubah tergantung pada sifat, perilaku, dan keinginannya.”
“Oke, lalu?”
“Di amerika telah ditemukan alat yang
bisa menangkap sinyal aura ini sehingga kita bisa membacanya dengan sangat
mudah. Harganya sangat mahal, kau tidak akan sanggup membelinya walaupun kau
menjual mobil ini bersama dirimu di dalamya. Nah, untungnya, aku memiliki mata
yang sudah dilatih, sehingga aku bisa menangkap warna-warna itu tanpa
menggunakan alat.”
“Apa? Aki bercanda?”
“Aku tidak pernah seserius ini sejak
pernikahanku yang pertama.”
“Bagaimana dengan pernikahan Aki yang
berikutnya?”
“Tidak penting. Nah, kita bisa
menggunakan kemampuanku ini untuk mengetahui bagaimana watak, karakter, dan
kesukaan wanita incaranmu itu untuk mendapatkan hatinya. Bagaimana menurutmu?”
“Waahh, sepertinya itu rencana yang
sengat hebat!!” Charles berseri-seri.
Mobil Charles berhenti sebentar
karena lampu merah. Dua detik kemudian, lampu berubah hijau dan mobil pun
kembali berjalan. Pembicaraan berlanjut.
“Seperti apa kelihatannya aura itu,
Ki?” tanya Charles.
“Tidak ada bedanya dengan warna-warna
yang biasa kau lihat sehari-hari. Merah, kuning, biru, coklat, warna-warna itu
bisa tertangkap oleh alat yang kubicarakan tadi. Bedanya denganku hanyalah,
mataku bisa melihatnya tanpa alat karena sudah terlatih. Semua ini murni sains,
ilmiah, tidak ada sihir sama sekali,” tutur Ki Elang.
“Emm... Ki, coba Aki baca auraku.
Bagaiamana kepribadianku?”
“Coba kulihat sebentar!”
Wajah Ki Elang berubah serius.
Matanya tajam, terus menatap Charles tanpa berkedip sedikitpun.
“Kau memiliki aura dasar cokelat. Itu
tandanya kau serius ketika melakukan sebuah pekerjaan. Selain itu aku melihat
warna kuning, itu tandanya kau pria yang bersukacita dan suka kebebasan. Kau
juga kreatif dan memiliki ide-ide yang unik dan cerdik. Aku kurang begitu yakin
yang dimaksud di sini cerdik ataukah licik.”
“Cukup cukup, Ki!” potong Charles
dengan tiba-tiba. Aku sudah percaya dengan kemampuan Aki, semuanya cocok...,”
wajahnya terlihat semakin gembira. “Ternyata Aki lebih hebat dari
kelihatannya.”
“Tentu saja, dan kau lebih bodoh dari
kelihatannya. Haha!!” Ki Elang tertawa terbahak dengan suaranya yang serak.
“Aku cuma begurau, Jeremy.”
“Nama saya Charles.”
“Terserah.”
Mobil putih kusam itu pun melaju
dengan sangat cepat. Seakan sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk
segera menjalankan misi dari orang yang sedang mengendarainya. Hanya dalam
beberapa menit mereka sampai di tempat tujuan.
“Ya, ampun! Aku lupa, HP-ku
tertinggal di rumah sakit tadi pagi,” Ki Elang menepuk jidat. “Semua catatan
tentang penjelasan dari setiap warna ada di sana.”
“Apa? Memangnya Aki tidak ingat arti
dari masing-masing warna itu?”
“Terlalu banyak warna, aku tidak bisa
mengingatnya satu persatu.”
“Lalu, sekarang bagaimana? Kita ke
rumah sakit dulu saja.”
“Tidak, tidak usah. Aku bisa
melakukan telepati untuk meminta dokter di sana membawanya ke sini.”
“Telepati? Memangnya itu bisa
dilakukan?”
“Pastinya. Tubuh kita bisa
menghasilkan listrik bukan? Kita bisa mengumpulkan listrik di otak kita, saat
itulah kita bisa menyampaikan sinyal di pikiran kita kepada seseorang lewat
magnet yang ada di dalam perut bumi ini sebagai penghantarnya, dan orang itu
akan melakukan yang kita inginkan.”
“Woow! Kelihatannya sangat menarik.”
“Tapi kita tidak bisa melakukannya
terus-menurus. Efeknya akan hilang dalam beberapa menit karena daya listriknya
sudah semakin melemah.”
“Aki tahu, sebenarnya Aki bisa
menghasilkan banyak uang dengan cara ini.”
“Kalau melakukan ini terlalu lama,
kepalaku akan pusing. Selain itu, aku tidak mau melakukannya untuk kejahatan.”
“Luar biasa! Sepertinya Aki lebih
cocok menjadi seorang ilmuwan ketimbang dukun.”
“Aku tidak bisa menjadi ilmuwan.
Lagipula, jadi ilmuwan tidak menyenangkan. Ilmuwan boleh salah, tapi tidak
boleh berbohong,” Ki Elang lafi-lagi terkekeh.
“Apapun itu, yang penting Aki senang.
Selagi Aki memanggil dokter itu kemari, saya akan mengatur pertemuan dengan
target kita. Dia seorang General Manager. Cukup sulit bertemu dengannya. Dia
akan keluar dalam beberapa menit. Selagi dia keluar, segera baca auranya ya
Ki.”
“Siap!!”
Charles masuk ke dalam kantor tempat
‘targetnya’ bekerja untuk mengatur pertemuan dengannya. Sementara Ki Elang baru
saja menyelesaikan telepatinya. Sekarang dia sedang menunggu kedatangan seorang
dokter yang akan mengembalikan HP-nya. Beberapa menit kemudian, Charles dan
‘targetnya’ keluar dari kantor untuk mengobrol sebentar, tidak sampai 2 menit.
Pada saat itu Ki Elang pun melakukan pekerjaannya membaca aura pada jarak yang
cukup jauh. Setelah wanita itu masuk, Charles kembali menghampiri Ki Elang.
“Bagaimana Ki? Sudah dapat?”
“Beres! Hei, Nak. Wanita itu
benar-benar cantik dan montok ya!”
“Namanya Angelina. Ya, selain cantik
dia juga kaya, dan juga janda,” Charles tersenyum.
Tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam
menghampiri mereka. Seseorang berpakaian dokter keluar dari mobil itu. Wajahnya
kelihatan datar, seperti dihipnotis. Dokter itu memberikan HP kepada Ki Elang,
lalu pergi begitu saja.
“Tunggu, aku kenal dengan pria itu.
Dia temanku, Dokter Sukiman,” teriak Charles.
“Benarkah? Sepertinya itu tidak
penting,” sergahKi Elang sambil memainkan HPnya. Dia sibuk mencari catatan
tentang warna yang terpancar dari tubuh Angelina. “Ketemu! Aura dari Angelina adalah
ungu. Itu menjelaskan kalau dia ternyata seorang janda.”
“Kan sudah kubilang dari awal!” sahut
Charles.
“Selain itu, aku melihat warna hijau.
Dia orang yang sangat menjaga kesehatannya dan sangat pilih-pilih makanan. Dia
seorang vegetarian.”
“Ya ampun! Pantas saja dia selalu
menolak saat kuajak pergi makan ke KFC dan Pizza Hut. Setelah itu kupikir dia
cinta makanan Indonesia, lalu kuajak dia ke warung sate. Eh, dia malah menolak
juga. Ternyata dia herbivora.”
“Tunggu dulu, masih ada! Dia orangnya
tenang, bersahabat, cinta kebersihan, dan mencintai lingkungan alam. Beri dia
hadiah sepeda, aku yakin dia akan langsung jatuh hati padamu.”
“Wah, Ki Elang memang hebat. Terima
kasih banyak ya, Ki. Urusanku sudah selesai. Ini, aku kasih setengah dari
pesangon gajiku, jumlahnya 25 juta,” Charles memberikan 5 buah kantung pelastik
yang berisikan uang dari bagasi mobilnya.”
“Luar biasa!” Ki Elang tersenyum
merekah. “Setelah ini aku akan ke luar negeri.”
Mereka berdua bersalaman. Keduanya
memiliki wajah yang sangat bahagia. Keduanya sama-sama puas. Charles
mendapatkan yang dia mau, Ki Elang mendapatkan lebih dari yang dia mau.
“Semoga lain kali kita bertemu lagi ya,
Ki...,” teriak Charles.
“Ah, aku tidak berharap itu terjadi,”
Ki Elang tertawa. “Baiklah, semoga beruntung, Nak. Aku pergi dulu.”
“Baiklah, Ki. Hati-hati!"
Ki Elang pergi naik taksi menuju
bandara untuk berlibur ke luar negeri. Sementara Charles mulai melakukan
misinya. Ia pergi untuk membeli sepeda merk terbaru. Keesokan harinya, dia
kembali mendatangi kantor tempat Angelina bekerja sebagai General Manager
dengan membawa kejutannya. Charles juga berhasil mengatur pertemuan dengannya.
Angelina dibawa keluar dengan mata tertutup. Setelah tiba di tempat kejutan,
Charles membuka penutup matanya dan berteriak.
“Surprise!!”
Angelina terkejut setengah mati dan
hampir tidak percaya dengan apa yang terlihat di depan matanya. Seseorang
akhirnya memberikan hadiah itu. Angelina pun mengutarakan ketidakpercayaan itu.
“Apaan-apaan ini? Kau mengambil 10
menitku yang berharga hanya untuk ini?!!”
Charles bungkam. Tak mengerti. “Epp,
Angel, Angelina. Kupikir ....”
“Ya ampuunn!!! Kalau kau ingin
mengambil hatiku, setidaknya kau berikan aku mobil! Tunggu, jangan beri aku
mobil! Garasiku sudah tidak muat lagi. Beri saja aku pesawat terbang atau pulau
pribadi.”
“Aku … Aku tidak mengerti. Kupikir …
Kupikir …” Charles gelagapan.
“Kau pikir apa? Jangan berlagak
berpikir!” Angelina beranjak pergi.
“Tunggu! Angelina, tunggu dulu! Masih
ada yang ingin kubicarakan denganmu.”
“Ada apa lagi?”
“Aku ingin mengajakmu makan siang.”
“Benarkah? Kau akan mengajakku makan
di mana? Restoran Itali? Prancis? Tapi, aku sedang ingin makan steak hari ini.”
“Aku, aku bermaksud mengajak kamu ke
rumah makan vegetarian.”
Angelina naik pitam. Wajahnya menjadi
merah padam. Ia melangkah cepat menghampiri Charles, diangkatnya tangan kanannya
tinggi-tinggi, dan ….
PLAAAKKKKK!!!!!!
Terdengar suara tamparan yang begitu
keras. Charles tidak sempat melihatnya. Dia hanya merasakan rasa nyeri dan
panas yang luar biasa di pipinya. Ketika dia membuka mata, dia melihat Angelina
sedang mentapnya dengan mata yang melotot dan berkata:
“Kau pikir aku kambing?! Hah? Jangan
pernah temui aku lagi, Martin!”
Angelina pergi meninggalkannya
seorang diri. Charles sudah tidak sanggup lagi menahan teriakan yang akan
keluar dari mulutnya.
“Namaku Charleeeess!!!!!”
***
“Halo, Dokter Sukiman?” telpon Charles
kepada temannya.
“Halo, Charles. Apa kabar?”
“Sangat buruk.”
“Oh, maafkan saya sudah bertanya.”
“Lupakan saja. Sebetulnya, ada yang
ingin saya tanyakan. Apakah anda kenal dengan Ki Elang? Dukun tua yang rumahnya
tidak terawat itu?”
“Ooh, saya kenal dia. Dua hari yang
lalu dia juga datang ke rumah sakit. Memangnya kenapa Charles?”
“Saya cuma ingin bertanya.
Sebenarnya, dia itu siapa sih, Dok? Dia dukun, tapi terkadang gayanya seperti
seorang ilmuwan.”
“Begini cerintanya. Sebenarnya,
dulunya dia memang ilmuwan. Namun ketika remaja, ia mengidap suatu kelainan yang
membuatnya tidak bisa tetap menjadi seperti itu. Akhirnya ia beralih profesi
menjadi dukun.”
“Memang kenapa dia …,” Charles tidak
meneruskan kalimatnya, “… ah, itu tidak penting! Emm ... Begini, dokter. Dia
mengatakan kepada saya kalau dia bisa membaca warna-warna yang terpancar dari
tubuh manusia.”
“Ya, dia memang sudah ahli dalam
bidang itu.”
“Betulkah? Lantas kenapa dia salah?”
“Sebentar, sebentar! Ada apa sebenarnya?
Saya kurang begitu mengerti.”
“Saya baru
saja meminta dia untuk membaca aura seseorang, dan ternyata analisis dia salah.
Saya jadi merasa tertipu olehnya. Kesal sekali!”
“Ah, iya! Hampir saja lupa. Ada satu
hal lagi tentang Ki Elang yang sangat penting.”
“Apa itu, Dok?
“Saya sudah bilang kalau dia mengidap
sebuah kelainan bukan? Mungkin itulah yang menyebabkan dia salah membaca
warnanya.”
“Memangnya, apa yang salah dengan
dukun itu?”
“Dia menderita buta warna parsial.”
“Hah?
Maksudnya?”
“Dia tidak bisa membedakan antara
warna merah dengan dengan hijau.”
===TAMAT===
No comments:
Post a Comment