![]() |
gambar: A General Theory of Love book cover |
Bila rasa sudah bersemayam, tak tahu lagi bagaimana
mengusirnya. Karena saat pertama melekatnya pun, itu bukanlah perkara yang
mampu berhasil dalam sekali percobaan. Paku saja harus dipalu berkali-kali agar
menancap dengan kuat di tembok, kayu, bahkan triplek sekalipun. Sekali pandang,
rasanya tawar. Dua kali pandang, rasanya asin. Berkali-kali pandang, rasanya
manis. Sering kali dipandang, rasanya gurrriihh bukan main (lho)! Retakan di
langit-langit, tak pernah kumelihatnya …
***
Ini adalah hari terindah yang pernah ada. Langit begitu cerah, tapi suhu sama
sekali tidak gerah. Bu Imas—guru Bahasa Indonesia—batal masuk kelas karena
hidungnya berdarah. Aku berjalan setengah melompat-lompat seperti anak kecil,
dengan senyumku yang merekah. Kalau sekarang aku bercermin, pastilah kedua
pipiku semu merah.
Dua menit itu, dua menit yang paling menyenangkan! Betapa tidak, aku berhasil
bicara dengannya. Kau percaya itu? Mulai sekarang, dia tahu namaku. Walau
sekadar nama panggilan, bukan nama lengkap yang tertera di akta kelahiranku.
Ah, benar-benar serasa mimpi aku sanggup mengatakan itu padanya. Percaya tidak
percaya, dengan persentase ketidakpercayaan 99 persen.
Kau pasti ingin tahu bagaimana kejadiannya bukan? Oh, ya. Nama asliku Dewi
Kirana, tetapi di akta tercetak Neng Dewi Kirana (entah dari mana asalnya
tambahan itu). Sejak kecil, semuanya memanggilku Wiki dan aku juga terbiasa
dipanggil begitu. Padahal, sebetulnya aku tidak suka. Membuatku terdengar
lemah. Tahu kata ‘lemah’ dalam bahasa inggris kan? Ah, sudah cukup
intermezonya. Akan aku ceritakan kejadian tadi saat lelaki itu belajar mengucap
namaku.
“Hei, cowok! Traktir aku dong!” pintaku sok dekat saat bertemu dengannya di
kantin.
“Hah?”
“Traktir. Tahu kan artinya?”
“Seenaknya! Memangnya kau siapa?”
“Aku Wiki dari 11 IPA 4.”
“Wiki?”
“Ingat baik-baik ya!”
Begitulah. Biasa saja bukan? Itu menurutmu. Lain dengan orang yang sedang kasmaran
seperti aku. Setelah itu aku langsung berlari terbirit-birit ke kelas. Mungkin
karena degup jantungku yang begitu cepat membuat adrenalinku terpacu.
Namanya Adrian. Orangnya putih, tinggi, badannya tegap berisi, dan suaranya
serak-serak becek. Persis seperti Ariel Noah dengan wajah lebih tampan. Tujuh
dari sepuluh banci pasti suka padanya. Apalagi aku sebagai wanita tulen. Aku
jatuh padanya. Aku mati padanya. Kalau boleh, ingin sekali aku memotong
kepalanya yang tampan itu untuk kupasang di dinding kamar, agar aku bisa
memandanginya setiap bangun ataupun hendak terlelap.
Selama istirahat kedua berlangsung, aku hanya duduk manis di depan kelas.
Kelasku dan kelasnya saling berhadapan. Aku bisa melihatnya sedang menulis dari
balik jendela. Tiba-tiba kepalanya menoleh. Dia menoleh ke arahku. Aku langsung
membuang muka. Berpura-pura tidak melihatnya. Bisa gawat kalau dia sampai
curiga. Setelah beberapa saat, aku melirik lagi ke arahnya. Ya ampun, dia masih
memandangiku sejak tadi. Ah, kepiting rebus! Pasti pipiku semerah makanan itu
sekarang.
***
… Kalau hati ini adalah ladang,
kau lah yang jadi petaninya. Yang saban hari keluar masuk, menggarap, memberi
pupuk, menyirami, dan menanam benih-benih di sana. Dan kalau memang kau petani,
kau adalah petani yang baik. Yang tak pernah lupa jadwal, menjaga agar
ladangnya tetap subur dan benihnya tumbuh dengan sehat. Retakan di
langit-langit, setiap malam aku selalu menatapnya …
***
Pagi ini sungguh biasa. Normal. Tak seperti kemarin. Padahal matahari baru naik
sepenggalan, tapi Adrian sudah dikerumuni oleh banyak perempuan-perempuan
centil dan berisik. Aku memang berisik, tapi setidaknya aku tidak hiperbol
seperti mereka. Huh, aku memang tidak suka pedas. Aku benci cabe. Apalagi cabe-cabean!
Kalau sedang kesal, aku ingin makan. Aku selalu membayangkan makanan yang masuk
ke dalam mulutku adalah orang yang membuatku kesal itu. Kugigit, kukunyah,
kukoyak dengan gigi taringku, lalu kutelan dengan lahap. Rasanya plong sekali.
“Bakso satu Mas!” pesanku pada Mas Guntur, penjual bakso di kantin sekolah.
“Campur?”
“Tidak pakai saus, tidak pakai sambel, juga tidak pakai kol.”
Aku mengisi satu-satunya meja yang kosong dengan dua kursi. Sekarang tinggal
duduk menunggu dengan bosan. Di saat seperti inilah, pasti selalu terbayang
momen-momen paling menyebalkan. Bagaimana mungkin Adrian bisa melihatku di
antara puluhan wanita yang selalu mendekatinya? Aku terus mencari waktu yang
tepat di saat ia sedang sendiri. Misalnya ketika ia sedang duduk menunggu di
Tata Usaha untuk menyerahkan data diri pengajuan beasiswa. Belum sempat aku
ngobrol, aku sudah dipanggil duluan ke dalam. Begitu aku keluar, giliran dia
yang dipanggil masuk. Kalau aku Sponge Bob,
pasti sudah kukatakan “Saus Tartar!”
Kletek! Semangkuk bakso mendarat di mejaku. Orang yang mengantarkannya lalu
duduk di kursi di depanku, di meja yang sama.
“Punyamu,” ujarnya. Sebenarnya aku ingin mengucapkan terima kasih, tetapi suaraku
menyangkut di tenggorokan saat mengetahui wajahnya. Aku hanya mengambil
semangkuk bakso itu dan langsung menyantapnya.
Ya ampun, kenapa sekarang? Kenapa si Adrian ada di sini? Aku belum menyusun
kata-kata yang pas untuk ngobrol. Aku masih terus melahap dan melahap lagi
bakso itu. Rasanya makin asin. Pasti kuahnya sudah terkontaminasi oleh keringat
dinginku yang bercucuran karena gugup. Aku tidak boleh terlihat bodoh. Aku
harus menemukan topik pembicaraan.
“Emm .…”
“Ini baksonya, Dek Adrian!” Mas Guntur mengantarkan pesanan Adrian. Uh,
mengganggu saja dia. Padahal baru satu emm yang aku katakan.
“Makasih, Mas!” jawab Adrian. “Oh, ya! Tadi kau mau bilang apa?”
“Bapakmu arsitek ya?” Alamak! Kenapa kata-kata itu yang keluar dari mulutku?
“Lebih tepatnya pemborong,” jawabnya tenang.
“Pemborong?”
“Kerjanya membangun bendungan, jembatan, dan jalan layang,” ujarnya sambil
memasukkan bakso bulat ke mulutnya.
“Kau bisa?”
“Belum. Ilmuku baru sampai membangun rumah.”
“Kalau membangun rumah tangga bisa tidak?” Keceplosan! Mulutku lagi-lagi tidak
terkontrol. Aku ini wanita, kenapa malah aku yang gombal? Aku sempat melihat
Adrian tersedak dan pergi membeli air mineral. Langsung saja kujejalkan semua
bakso di mangkuk sampai mulutku penuh, lalu berlari kembali ke kelas, setelah
membayar tentunya.
***
… Aku memang pemalu. Tak enak hati membeberkan semua rahasia padamu. Padahal
kelas kita bersebrangan. Setiap saat aku bisa melihatmu dari sini. Menikmati
wajah lucu yang kau pamerkan. Membayangkan kalau aku bisa memandangnya dari
dekat. Setidaknya lebih dekat dari jarak antara dua mata. Pasti menyenangkan.
Tapi itu belum cukup. Kau tahu, bagiku itu tidak pernah cukup. Aku ingin
memilikimu. Andai ayahku tidak menurunkan gen pemalu-nya padaku, tidak akan
seperti ini jadinya. Retakan di langit-langit, setiap malam aku selalu
menatapnya, tapi tak pernah melihatnya. Karena saat itu, pikiranku sedang
terfokus padamu …
***
Keesokan harinya, entah kenapa suasana begitu berbeda dari sebelumnya. Langit
mendung, padahal bukan di kota hujan. Hawa dingin membuat meriang seluruh
badan. Angin pun berhembus dengan ragu-ragu, kadang kencang, kadang pelan. Yang
terpenting dari semuanya, sejak pagi aku belum melihat dadanya yang bidang,
Adrian.
Kuputuskan untuk ke kantin dan membeli bakso. Lagi.
“Mas, pesan baksonya setengah, mie-nya setengah, bihunnya setegah, kuahnya
setengah!”
“Lho, kok pesennya setengah-setengah Neng?”
“Lagi diet.”
“Oh, pantesan. Ya sudah, nanti saya bikinin.”
“Oke. Pesennya porsi dobel ya Mas!”
Saat itu Mas Guntur menyadari kalau aku sedang bergurau. Tapi tidak ada tawa di
mulutnya.
“Garing!” cuma itu tanggapannya. “Oh iya! Tadi ada yang nitip ini sama saya.
Katanya buat Neng Wiki.”
Mas Guntur memberikan selembar amplop. Apa ini? Uangkah isinya? Aku membukanya
dan melihat bahwa ternyata isinya selembar kertas berisi tulisan yang sangat
banyak. Duh, aku sedang malas membaca. Mana baksoku sudah tiba. Tapi sepertinya
pesan ini cukup penting. Yah, mau bagaimana lagi. Dengan terpaksa aku pun mulai
membacanya:
“Bila rasa sudah bersemayam, tak
tahu lagi bagaimana mengusirnya …”
***
… Aku sangat menikmati detik-detik saat bersamamu. Di ruang Tata Usaha, kita
memang tidak mengobrol. Tapi aku sempat melihat aktamu saat kau sedang
membereskan berkas-berkasmu. Neng Dewi Kirana. Nama itu yang kubaca di sana.
Makanya aku sungguh terkejut saat tiba-tiba kau datang meminta traktir, dan
menyebutkan bahwa namamu adalah Wiki. Lalu, saat kau sedang makan bakso.
Beruntung sekali hanya mejamu yang kosong, aku jadi punya alasan untuk duduk di
sana. Aku sempat kesulitan menghirup napas saat kau mengatakan itu padaku.
Rumah tangga? Haha… Ternyata kau pintar menggombal juga ya. Asal kau tahu, tiga
menit saat makan bakso bersamamu, adalah tiga menit yang tak akan pernah kulupa
dan tak akan pernah hilang rasanya.
Hemmh… Surat ini sudah terlampau panjang. Aku takut kau malah bosan membacanya.
Maaf ya, aku bukan lelaki gentle yang bisa mengungkapkan
segudang kata cinta padamu secara langsung. Aku cuma ingin mengatakan salam
perpisahan. Ya, ayahku pemborong, kerjanya tak menetap. Aku harus ikut
dengannya disaat ada proyek baru. Satu hal yang harus kau tahu, aku bukan tipe
lelaki yang suka main-main soal perasaan. Untuk masalah ini, aku serius. Aku
bukan lelaki yang mudah jatuh cinta. Perlu ratusan bahkan ribuan alasan untuk
aku mencintai seorang wanita. Dan kau punya satu milyar alasan yang kubutuhkan.
Aku memang akan pergi. Tapi aku berjanji. Beberapa tahun dari sekarang, aku
akan berkunjung ke rumahmu. Bukan untuk menemuimu, tapi untuk menemui ibu dan
bapakmu. Saat datangnya hari itu, pastikan kau belum punya suami ya! Hehe …
Adrian
===TAMAT===
No comments:
Post a Comment