![]() |
gambar: hqwide.com |
Aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan Sasha. Kukira dia sahabat baikku. Ternyata aku terlalu naif. Apa benar Sasha dan Ale memang sudah lelah dengan sikapku? Ah, kalau memang mereka sahabatku, pastinya mereka tidak akan melakukan itu. Mereka pasti menginginkan yang terbaik untukku dan selalu men-support apapun yang kulakukan. Benarkah kalau Sasha sangat membenci Mona? Atau mungkin, Sasha ada hubungannya dengan kematian Mona? Tidak, tidak mungkin. Separah apapun tidak sukanya Sasha terhadap Mona, dia tidak mungkin melakukan hal yang sebegitu kejinya. Tidak mungkin.
Nuutt … Nuuutt …
Handphoneku
bergetar. Kurogoh saku celanaku untuk mengambilnya. Ada telpon dari Ale. Sasha
pasti sudah cerita kepada Ale. Lebih baik tidak kuangkat. Lagipula aku harus
pergi ke sumedang sekarang juga. Tidak ada waktu untuk berkelahi.
Tadinya aku
mau mengajak Ale. Tapi, aku pergi sendiri saja lah.
Aku
pun bergegas meninggalkan tempat ini dan turun ke jalan raya. Lalu menyetop
sembarang angkot yang lewat untuk pergi ke terminal bus. Aku melangkahkan kaki
kananku untuk memasukinya, tiba-tiba…
“Tomi!!”
Ada
yang memanggilku. Aku menengok, ternyata itu Ale.
“Tomi,
tunggu Tom!!” panggil Ale sambil berlari menghampiriku. Cepat-cepat aku masuk
dan menyuruh sopir untuk segera berangkat. Tapi sialnya, si sopir belum belum
mau melakukannya karena angkot belum penuh.
“Bang,
cepat berangkat bang!”
“Nanti
dulu Dek, tiga orang lagi deh.”
“Saya
bayar lima kali lipat,” tukasku sambil celingukan ke arah Ale. Ale sudah
semakin dekat.
“Serius?”
“Iya,
makanya cepat beragkat!”
Pak
sopir pun akhirnya memasukkan gigi mobil dan langsung tancap gas.
“Fyuuhh
… hampir saja!”
Setelah
tiga kali berganti-ganti angkutan umum, dalam lima jam akhirnya aku tiba di
Tomo. Setelah itu aku naik ojek ke dekat pemakaman yang Ale tunjukkan padaku.
Angin di sini bertiup dengan cepat, membuat beberapa batang pohon terlihat
melengkung. Sesaat kemudian angin berubah tenang, sebelum akhirnya kembali
berhembus kencang. Kondisi udara di sini tak menentu, atau ini hanya perasaanku
saja? Entah kenapa jantungku kembali berdegup dengan kencang, seakan telingaku
sendiri bisa mendengarnya. Tanganku bergetar hebat dan dari telapaknya
bercucuran keringat. Ini terjadi lagi.
Aku
belum tahu di mana rumah Ibu Rima sekarang. Jadi aku bertanya kepada setiap
orang aku temui di jalan. Sayangnya, daerah ini sangat sepi. Hanya sekitar
lima-enam orang yang berhasil aku temukan berada di luar rumah. Namun instruksi
mereka cukup jelas. Dan baiknya, mereka sudah mengenal ibu Rima walaupun dia
baru dua bulan tinggal di daerah ini.
Setelah
beberapa menit mencari, akhirnya aku menemukannya. Akhirnya, sebentar lagi
semuanya akan menjadi jelas. Aku tahu Mona memang tidak akan hidup lagi, tapi
setidaknya, aku tidak akan penasaran lagi. Setidaknya aku tahu apa yang terjadi
kepadanya. Aku berjalan dengan pelan ke halaman rumah itu. Tanganku semakin begetar.
Apakah aku berani mengetuk pintu kayu besar itu? Apa aku berani? Kenapa aku
takut? Apa yang aku takutkan sebenarnya?
Tok ... Tok ... Tok ...
Aku
sudah mengetuknya. Aku melakukannya. Yang harus kulakukan sekarang hanyalah
menunggu. Aku harus menunggu. Tapi, entah kenapa aku malah ingin segera pergi
dari sini. Aku ingin lari sekencang-kencangnya meninggalkan tempat ini.
Tap ... Tap ... Tap ...
Suara
langkah kaki terdengar dari dalam. Tiba-tiba peluh dingin bercucuran di
wajahku. Angin yang berhembus kencang membuatku semakin kedinginan. Aku harus
bertahan, jangan pergi dulu! Tolonglah, tahan! Tahan sebentar lagi! Suara
langkah kaki semakin dekat. Pelan-pelan pintu itu terbuka. Aku semakin takut.
Cepat-cepat kutundukkan pandanganku. Pintu terbuka sepenuhnya. Aku melihat
sepasang kaki. Sepasang kaki yang tidak asing bagiku.
“Mona?”
Aku
langsung mengangkat wajahku untuk melihatnya.
Braakkk!!!
Pintu
itu tertutup dengan sangat keras. Aku sangat terkejut. Aku sempat melihat
wajahnya sedikit. Sepertinya itu Ibu Rima. Kenapa aku merasa kalau itu adalah
Mona? Tidak, tidak. Mona sudah meninggal, pastilah itu Ibu Rima. Tapi, apa
benar kalau Mona sudah meninggal? Dia Mona atau Ibu Rima?
“Mau apa kau ke sini bajingan??!!!” teriaknya dari dalam. Suara ibu Rima.
“Mona,
eehhh…,” aku tidak yakin. “Ibu Rima, saya mau bicara sebentar.”
“Tidak bosan-bosannya kau mengganggu hidupku!! Pergi dari
sini!!” teriaknya lagi.
“Maaf,
Bu. Saya mohon, saya cuma ingin tahu apa yang terjadi dengan Mona. Tidak ada
maksud sama sekali mengganggu ibu. Saya mohon buka pintunya Bu!,” pintaku.
”Pergi kau bajingan!!!” suaranya parau, diiringi dengan tangisan.
“Bu,
tolong buka pintunya Bu! Bu!!!” aku mengetuk-ngetuk pintu itu. Ibu Rima hanya
menjawabnya dengan tangisan, sesunggukan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Usahaku gagal. Ini tidak akan berhasil. Aku akan pergi sekarang juga. Aku
selesai dengan semua ini.
“Toloong!!!”
“Mona?”
Apa aku tidak salah dengar? Itu suara Mona.
“Mona!!
Mona!! Buka pintunya!! Ibu Rima, buka pintunya!!” teriakku sambil terus
menggedor pintu itu.
“Mau apa lagi kau orang gila?!” teriak Ibu Rima.
“Buka
pintunya! Aku tahu Mona ada di dalam. Buka pintunya sekarang!!”
Tiba-tiba
seseorang datang dan menepuk pundakku dari belakang.
“Tomi,
ternyata dugaanku benar,kau pasti datang ke rumah ini.”
“Ale?
Mau apa kau ke sini?”
“Ayo
kita segera pulang Tom!”
“Tidak
Le. Tidak sampai aku bertemu dengan Mona.”
“Mona
sudah mati Tom! Kita berdua sudah melihat kuburannya. Apa lagi yang kau mau?”
“Mona
belum mati. Aku mendengar sendiri dia meminta tolong dari dalam.”
“Apa?
Apa maksudmu?”
“Ya,
Mona masih hidup.”
“Kau
benar-benar sedang sakit Tom.”
“Terserah
apa katamu, aku akan tetap …,” pembicaraanku terhenti. Perhatianku teralihkan
oleh seorang wanita berambut panjang yang sedang berlari di jalan. Wanita yang
selama ini aku cari-cari, akhirnya aku menemukannya.
“Mona!!”
Aku
segera berlari mengejarnya. Tapi Mona berlari terlalu cepat. Aku mempercepat
lariku. Ale mengejarku sambil memanggil-manggilku dari belakang. Tapi aku tidak
mempedulikannya. Mataku terfokus ke depan untuk mengejar Mona.
“Mona!!
Kenapa kau lari Mona?!! Mona, tunggu aku!!”
Aku
terjatuh di persimpangan. Tiba-tiba sebuah mobil datang dengan cepat dari arah
sana. Lalu telingaku mendengar suara ban yang mengerem berpadu dengan suara
klakson yang sangat kencang dan panjang.
Ttccciiiiiiinnnnnn!!!!!
Aku
bergeming. Tidak bergerak sama sekali. Sesuatu bergerak di kepalaku. Seperti
sebuah laci telah sekian lama tertutup rapat, sekarang laci itu terbuka. Ya,
sekarang aku ingat. Aku sudah mengingat semuanya ….
Bersambung ….
No comments:
Post a Comment