![]() |
gambar: ext.homedepot.com |
Sepulang sekolah, aku segera mendatangi rumahnya, rumah Mona. Namun sesampainya aku di sana, aku merasa … berbeda. Rumah itu cat nya sudah berubah. Sangat lain dari sewaktu aku terakhir kali datang kemari. Pohon mangga di depan rumahnya pun sudah ditebang. Kini, tidak ada lagi ayunan di halaman depan yang biasa kami pakai menghabiskan waktu berdua, seolah tidak ada lagi hari esok. Aku semakin merasa aneh.
“Permisi!!!” Aku mengetuk pintu kayu
bercat putih itu. Beberapa saat kemudian, pintu itu terbuka. Di balik daun
pintu, aku melihat seorang wanita cantik. Sayangnya, dia bukan Mona. Aku tidak
pernah melihat wanita ini sebelumnya.
“Ada apa ya, Mas?” tanya wanita itu
dengan logat jawa yang kental.
“Emm, Monanya ada tidak?” tanyaku.
Wanita itu mengernyitkan dahinya. Aku tahu itu adalah tanda tidak mengerti.
Seharusnya aku yang kebingungan di sini. Siapa wanita ini ? Kenapa dia ada di
rumah Mona?
“Tunggu sebentar ya, Mas!” pintanya.
Perempuan itu pun masuk ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian, seorang wanita
tua keluar dari rumah itu.
“Ada yang bisa saya bantu, Dek?” tanya
wanita tua itu lagi-lagi dengan logat jawa yang kental.
“Saya ingin bertemu dengan Mona, Bu.
Monanya ada tidak?”
Wanita itu mengernyitkan dahinya. Aku
mulai bosan.
“Emm, maaf Bu. Kalau boleh tau, ibu ini
siapa ya?” tanyaku.
“Saya Aisyah, saya memang tinggal di
sini.”
“Lho? Bukannya ini rumah Ibu Rima? Ibu
ini neneknya Mona?”
“Bukan. Memang Adek belum tau? Ibu Rima
kan sudah pindah ke luar kota.”
“Pindah? Sejak kapan?”
“Kira-kira, sejak dua bulan yang lalu.”
Apa? Pindah? Kenapa tidak ada yang
memberitahukannya padaku? Kenapa Mona tidak mengatakannya padaku? Kenapa begitu
tiba-tiba? Kenapa Mona meninggalkanku di saat aku tidak sadarkan diri? Apakah
aku sudah tidak berarti lagi baginya? Apakah kau sudah tidak peduli lagi
padaku, Mona?
Wanita itu mengatakan sesuatu, aku tahu
itu. Aku hanya tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
“Apa Bu?” tanyaku.
“Adek ini saudara Ibu Rima?”
“Oh, bukan. Saya teman anaknya. Emm, Ibu
tahu tidak Ibu Rima dan keluarganya pindah ke mana?”
“Wah. Saya kurang tahu tepatnya. Saya
cuma tahu nama daerahnya.”
“Tidak apa-apa Bu. Memangnya, sekarang
Ibu Rima tinggal di daerah mana?”
“Di daerah Tomo, Sumedang.”
“Oh, begitu ya. Terima kasih banyak Bu!”
aku tersenyum segan padanya.
“Iya Dek, sama-sama!” wanita itu
tersenyum dan segera menutup pintu.
Daerah Tomo, Sumedang. Aku harus
mencatatya di HP agar tidak lupa. HP? Benar juga! Kenapa aku tidak menelponnya.
Bodoh sekali! Segera kurogoh tas selendang berwarna coklat kusam-ku untuk
mecarinya. Aduuuhh… Ke mana HP sialan itu! Aku tidak sabar. Segera saja
kubalikkan tasku hingga semua benda di dalamnya tumpah berserakan di atas
tanah. Namun, aku tetap tidak menemukan benda itu. Oh, iya! Pasti ibu
membereskannya. Aku harus segera pulang!
***
“Assalamu’alaikum … Tomi pulang, Bu..”
Di ruang tamu, ibu tidak sendirian. Di
sana ada seorang pria berkumis tebal bertubuh besar sedang mengobrol dengan
ibu. Pria itu memakai celana jeans panjang dan jaket kulit berwarna hitam.
“Wa’alaikumussalam ... Tomi, kamu
sudah pulang.”
Pria bertubuh besar itu menengok ke
arahku. Wajahnya menunjukkan aura tidak bersahabat. Aku tidak suka dengannya.
“Iya, Bu.” jawabku.
“Oh, iya. Tomi, kenalkan. Ini Pak
Slamet.”
“Apa kabar Tomi?” Pria itu memiliki
suara yang berat. Aku berjabat tangan dengannya. Tangannya mencengkramku dengan
kuat, aku hampir kesulitan melepaskannya.
“Emm, tidak pernah sebaik ini Pak,”
jawabku.
“Hmm, ya sudah Bu. Begitu saja ya. Saya
harus segera pergi,” Pak Slamet pamit.
“Ah, iya Pak. Terima kasih banyak ya.”
“Iya Bu. Saya juga sangat
berterimakasih. Tomi, saya pulang dulu ya,” Pak Slamet tersenyum padaku. Aku
tidak membalas senyumannya.
Pria ini, aku tahu ada sesuatu yang
disembunyikannya. Semua gerak tingkahnya penuh kepalsuan. Siapa sebenarnya Pak
Slamet ini? Apa yang dia inginkan? Ah, kenapa aku jadi memikirkan itu? Ada hal
yang lebih penting.
“Bu, HPku mana?”
“HPmu? Oh, ibu memakainya selama kamu
sakit. Memang kenapa Tom?”
“Aku sangat membutuhkannya Bu. Boleh
kuminta HPku sekarang?”
“Ambil saja, HPnya ada di kamar ibu.”
Tanpa menunggu lagi, segera kuambil
mesin serbaguna itu dan langsung kutekan nomor Mona. Sekarang tinggal bagian
yang paling membosankan. Menunggu nada sambung kereta api.
Tuut tuut tuut…
“Tersambung!!” Alhamdulillah …
Untungnya Mona belum mengganti nomornya. Aku semakin tidak sabar menunggu Mona
mengangkat telpon. Tiba-tiba,
Nut.
Lho? Ada apa ini? Kenapa Mona menolak
panggilanku? Aaahh, lebih baik kucoba lagi.
“Ayolah Mona! Angkat telponnya!”
gumamku kesal.
Nut.
Sekali lagi panggilanku ditolak. Aku tidak
mengerti. Apakah Mona sudah tidak lagi menyukaiku? Apakah dia sengaja pindah
untuk menjauhiku? Ataukah kita berdua memang sudah berpisah sebelum aku koma?
Aaarrgghhh, aku tidak bisa mengingatnya. Aku tidak bisa mengingat apapun.
Aku mencobanya sekali lagi. Namun
lagi-lagi panggilanku ditolaknya. Sesaat sebelum aku mencoba lagi untuk yang ke
sekian kalinya, sebuah pesan tiba di HPku.
Mona! Ini sms dari Mona!! Oh, Tuhan..
Tak henti-hentinya aku berterimakasih padamu. Spontan kubuka SMS itu dan
membaca isinya.
“Bajingan, jangan pernah lagi kau
menggangguku!!”
Aku tercengang. Tak percaya dengan apa
yang baru saja kubaca. Jantungku bergetar hebat. Hawa dingin merasuk ke dalam
dadaku. Hatiku membeku, kemudian retak, lalu hancur berantakan. Mona, aku sama
sekali tidak mengerti. Apa yang sebenarnya telah terjadi? Ada apa denganmu? Ada
apa denganku?
Bersambung .…
No comments:
Post a Comment